Showing posts with label Keadilan. Show all posts
Showing posts with label Keadilan. Show all posts

Saturday, February 7, 2026

DARI TANAH TRANSMIGRASI MENUJU PENGABDIAN NEGARA

 


Oleh :

Pujha Setiawan .J, S.H.,M.Kn

“Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan.” Kalimat ini bukan sekadar pepatah, melainkan kompas batin dalam menapaki jalan panjang menuju mimpi. Bagi seorang anak petani sawit di tanah transmigrasi, mimpi sering kali terasa jauh dan abstrak. Namun justru dari keterbatasan itulah keberanian untuk bermimpi tumbuh, dan dari kesederhanaan itulah tekad ditempa.

Tanah transmigrasi bukan hanya hamparan kebun sawit dan rumah-rumah sederhana. Ia adalah ruang belajar tentang arti kerja keras, kejujuran, dan kesabaran. Setiap tetes keringat orang tua mengajarkan bahwa hidup tidak diwarisi dalam kemewahan, tetapi diperjuangkan melalui ketekunan. Dari lingkungan inilah tumbuh keyakinan bahwa pendidikan dan kesediaan berproses adalah satu-satunya jalan untuk mengubah nasib dan memberi makna bagi kehidupan.

Masa muda kemudian menjadi ruang pencarian jati diri melalui aktivisme organisasi. Organisasi bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan sekolah kehidupan. Diskusi panjang, perdebatan ide, hingga proses kaderisasi membentuk keberanian berpikir dan bertindak. Di sana, kepekaan sosial diasah, terutama ketika berhadapan dengan realitas ketidakadilan yang kerap menimpa masyarakat kecil. Dari titik inilah muncul kesadaran bahwa hukum bukan sekadar aturan tertulis, melainkan instrumen perjuangan untuk menghadirkan keadilan.

Kesadaran tersebut mendorong langkah untuk menekuni ilmu hukum secara lebih serius melalui pendidikan kenotariatan. Dunia notariat memperkenalkan wajah hukum yang teknis, presisi, dan sarat tanggung jawab. Setiap akta bukan sekadar dokumen, tetapi jaminan kepastian hukum bagi masyarakat. Integritas menjadi nilai mutlak, karena satu kelalaian dapat berakibat panjang bagi hak dan kewajiban orang lain. Namun, perjalanan untuk menjadi notaris harus terhenti di tengah jalan. Asa itu pupus, entah oleh takdir atau keadaan. Meski berat, kenyataan tersebut diterima dengan lapang dada sebagai bagian dari dinamika kehidupan.

Kegagalan tidak menghentikan langkah, melainkan mengubah arah pengabdian. Bekal aktivisme dan profesionalisme akhirnya bermuara pada pilihan mengabdi melalui institusi Kejaksaan. Menjadi jaksa bukan semata soal jabatan, tetapi tentang amanah negara dan tanggung jawab moral. Jaksa berdiri di simpul kepentingan hukum dan keadilan, dituntut tegas, independen, dan berani di tengah tekanan serta godaan.

Dalam peran itulah latar belakang sebagai anak petani sawit transmigrasi justru menjadi kekuatan. Kehidupan yang akrab dengan kesederhanaan menumbuhkan empati dan kepekaan nurani. Ia menjadi pengingat bahwa hukum tidak boleh tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Penegakan hukum harus berpihak pada keadilan substantif, bukan sekadar formalitas prosedural. Integritas menjadi nilai yang terus dijaga dalam setiap langkah pengabdian. Hukum tidak cukup ditegakkan dengan pasal dan berkas perkara, tetapi juga dengan hati nurani. Perjalanan dari tanah transmigrasi hingga ruang pengabdian di Kejaksaan membuktikan bahwa asal-usul sosial bukanlah batas untuk berkontribusi bagi bangsa.

Kisah ini adalah pesan bagi generasi muda: mimpi tidak ditentukan oleh tempat lahir, melainkan oleh keberanian untuk berproses dan kesetiaan pada nilai. Dari tanah transmigrasi pun dapat lahir aparat penegak hukum yang adil, jujur, dan berintegritas. Sebab pada akhirnya, pengabdian sejati adalah ketika latar belakang sederhana bertemu dengan tekad besar untuk menjaga keadilan dan martabat bangsa.


DARI TANAH TRANSMIGRASI MENUJU PENGABDIAN NEGARA

  Oleh : Pujha Setiawan .J, S.H.,M.Kn “Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan.” Kalimat ini bukan sekadar pepatah,...